Home » » Kejujuran, Prasangka dan Kemakmuran

Kejujuran, Prasangka dan Kemakmuran

Catatan Ringan. Tingkat kejujuran masyarakat (entah ada alat ukurnya) menghasilkan baik-buruknya prasangka dan akan mempengaruhi kemakmuran negeri ini.  Indonesia sejak dahulu dikenal sebagai negeri yang kaya, entah sudah berapa bangsa di dunia ini yang ingin, sudah dan akan menjajah negeri kaya ini.  Sayangnya kekayaan negeri ini tidak pernah sebanding dengan kemakmuran rakyatnya, lalu dimana salahnya?, entahlah.. hari ini saya cuma mau bercerita saja.

Cobalah kita cari gambar pada google search dengan kata kunci "pemulung dilarang masuk" maka akan banyak ditemukan foto-foto plang peringatan melarang masuknya pemulung pada kampung atau komplek perumahan, bahkan dengan plang permanen.  Menurut saya itu menggambarkan betapa sebagian masyarakat tidak percaya pada pemulung, bisa jadi berperan ganda sebagai (maaf) maling.
Cobalah lagi ingat ingat berita di televisi, bagaimana banyaknya pedagang curang yang menjual barang dagangan berupa makanan yang mengandung pewarna dan pengawet berbahaya bagi kesehatan manusia, seakan bagi mereka yang penting dapat nafkah, orang lain mau sekarat dia tak perduli.
Cobalah perhatikan berita di koran akhir-akhir ini, betapa banyak pejabat (kepala) daerah, pejabat pusat, anggota dewan dan para pengusaha besar bahkan hakim yang tertangkap KPK dan terbukti melakukan tindak pidana korupsi.
Begitu banyak informasi yang yang kita terima setiap hari dari tv, koran dan internet tentang bagaimana rendahnya tingkat kejujuran masyarakat kita dari tingkat kesejahteraan paling rendah sampai pada pejabat yang paling sejahtera, mereka banyak yang melakukan ketidakjujuran dalam mencari nafkah sehari-hari, maka tidak salah rasanya kalau saya berprasangka Indonesia ini tidak pernah makmur walau kaya karena masyarakat kita sedang sakit karena tidak jujur.

Pada suatu bulan Ramadhan dimana di kota saya selalu diadakan Pasar Wadai, pasar tempat ngumpulnya makanan tradisional daerah sebagai makanan khas saat berbuka puasa.  Seperti biasa setiap tahun pasar ini penuh sesak dengan pembeli, mungkin sekalian menikmati hiburan dan rekreasi gratis khas bulan Ramadhan.  Saya pun tak ketinggalan menikmatinya bersama keluarga. Bagian yang paling sibuk adalah parkir roda dua, saking banyaknya sepeda motor yang parkir, petugasnya kewalahan mengaturnya, setiap yang masuk bayar duluan Rp 2.000,- tanpa tanda (karcis) masuk dan pulangnya pun tanpa dicek lagi oleh petugas parkirnya.  Kebetulan saya bawa sepeda motor yang masih baru beberapa bulan belinya, begitu mau pulang saya lupa menaruh kunci kontak, setelah diingat-ingat saat sesudah masuk parkir saya sempat buka bagasi dan kemungkinan saya lupa mengambil kuncinya lagi.  Saya tanya pada petugas parkir apa ada lihat kunci yang tertinggal, seperti sudah diguga dia pun tidak tahu karena sangat sibut mengatur banyaknya kendaraan yang masuk, saya pun sempat bingung.  Sambil duduk di atas kendaraan di parkir tersebut sambil menenangkan diri dan istirahat sejenak, eh ternyata ada yang menaruh kunci kontak saya dalam box depat kendaraan (matic) saya.  Tentu saja saya sangat bersyukur kunci kontaknya telah ketemu.  Saya pun jadi tersadar akan prasangka saya terhadap kejujuran masyarakat kita, saya pun mengucap istighfar terhadap prasangka saya tadi, betapa tuhan telah menegur saya dengan kejadian itu, seandainya semua orang sama seperti prasangka saya, tidak jujur, maka hilanglah sudah sepeda motor baru saya, karena untuk keluar dari tempat parkir, tanpa ada pengecekan oleh petugasnya dan memang parkirnya tanpa tanda (karcis) parkir.  Terima kasih untuk seseorang yang telah menyelamatkan kunci kotak sepeda motor saya.

Mulai sekarang mari kita selalu berlaku jujur, berprasangka baik dan semoga kemakmuran Indonesia cepat terwujud.

0 komentar:

Post a Comment