Home » » Teknologi Yang Mempermudah Ibadah

Teknologi Yang Mempermudah Ibadah

teknologi yang mempermudah ibadah
Catatan Ringan. Pernah suatu kali pada bulan Mei 2011 saya berangkat tugas ke luar daerah bersama seorang teman, teman tersebut tanpa bawa hape karena disita oleh istrinya lantaran kedapatan sms yang membuat cemburu sang istri.  Tetapi sang istri selalu menghubungi teman saya lewat hape saya, sehari bisa 4-5 kali menelefon dan sms, akhirnya kami berdua jadi ga enak dibuatnya.  Zaman sekarang pergi ke luar rumah bahkan ke luar daerah begitu susahnya kalau tanpa hape, kalau berangkat kerja mending ketinggalan dompet dari pada ketinggalan hape.  Begitulah kira-kira pentingnya gadget tersebut saat ini.  Sekarang hape bukan sekadar untuk nelefon dan sms, banyak fasilitas teknologi lainnya masuk ke gadget tersebut, mulai dari kamera, tv, internet, chating, sosial media, peta, kompas, arah kiblat, jadwal waktu shalat dan lainnya.  Sepertinya apapun yang kita butuhkan tinggal unduh di Google Play atau sejenisnya.

Jadi teringat pada waktu yang lebih jadul lagi, sekitar bulan Maret 1994, saya diterima kerja sebagi Asisten Kebun, pada perkebunan kelapa sawit Indoagri Inti Plantation, Salim Group.  Sebelum mengikuti Training di Riau, saya mengikuti Orientasi selama 2 bulan di Perkebunan PSA (saya sudah lupa kepanjangannya) di Desa Pondok Labu Kecamatan Pamukan Utara Kabupaten Kotabaru Kalsel.  Perjalanan darat dari Banjarmasin diperlukan waktu 2 hari (plus transit nginap di Desa Sungai Durian) karena pada saat itu musim hujan, jalan yang ditempuh seperti offroad (olahraga bagi yang kelebihan duit).  Pas sampai pada tujuan persis malam 1 Ramadhan.  Disana saya dibimbing oleh Manajer Pak Munir Mekka (dari Sulawesi Selatan) dan Asisten Manager Pak Muslimin (dari Sumatera Selatan), semoga bisa bertemu lagi dengan mereka.  Beberapa hari mengawali puasa saya mulai bingung, di tengah hutan (hampir belantara) tidak tahu jam berapa Subuh (mengawali puasa) dan jam berapa Maghrib (berbuka puasa).  Siaran Radio (satu-satunya alat komunikasi jarak jauh yang ada) yang bisa ditangkap cuma yang berasal dari Sulawesi Selatan, sementara waktu shalatnya sangat berbeda dengan daerah Kotabaru Kalsel, dan konversi waktu shalat kedua daerah tersebut tidak kami ketahui.  Akhirnya saya berkirim surat ke orang tua di Banjarmasin mohon dikirimkan jadwal waktu shalat yang biasanya dibagikan di masjid-masjid di Banjarmasin, biasanya disitu tertera selisih waktu untuk daerah-daerah lainnya di Kalsel termasuk Kotabaru.  Surat dititipkan pada siapa aja yang mau keluar perkebunan secara estafet dari beberapa kebun yang berjejer sambung menyambung sampai di Kota Kotabaru, baru dimasukkan di Kantor Pos (Bis Surat).  Sampai selesai puasa Ramadhan surat balasan belum saya terima, maka selama Ramadhan subuh dan maghrib serta waktu shalat lainnya diperkirakan saja dengan melihat posisi matahari.  Selesai 2 bulan saya menjalani masa orientasi di tengah hutan saya sempat pulang ke rumah sehari dan langsung berangkat lagi ke Riau untuk training.  Di rumah saya tanya kenapa surat saya tidak dibalas, ternyata surat saya sampai di rumah pada akhir bulan Ramadhan, tinggal beberapa hari lagi Lebaran, maka kami pun hanya bisa ketawa merasakan betapa sulitnya komunikasi saat itu.

Andai saat itu ada hape seperti sekarang tentu kejadian (lucu) tersebut tidak bakal terjadi.  Sekarang yang bisa kita ambil pelajaran dari dua kisah perjalanan saya adalah bisakah kita mempergunakan segala kemajuan teknologi tersebut untuk hal yang bermanfaat bagi dunia dan akhirat kita, bukan untuk hal yang membuat maksiat atau sesuatu yang sia-sia.  Ilmu dan teknologi selalu bersifat netral (bebas nilai) pemakainyalah yang bisa bernilai negatif atau positif.  Mari kita pergunakan teknologi untuk mempermudah ibadah.

0 komentar:

Post a Comment