Home » » Menang Jadi Koruptor, Gagal Jadi Gila

Menang Jadi Koruptor, Gagal Jadi Gila

Catatan Ringan.
"ambil duitnya jangan pilih orangnya.
maka kita sudah jadi penerima suap sekaligus penipu.
lebih hebat dari calegnya yang baru calon koruptor dan calon penipu."

Begitulah status yag saya tulis di fb, beberapa hari yang lalu, status saya tersebut di-share seorang sahabat, trus banyak dikomentari teman-temannya lagi, ada yang setuju ada yang tudak sependapat. 
Yang tidak sependapat berkomentar seperti ini: "Kok ...? Kalau dia beri uang lalu kita pilih, maka baru disebut terjadi suap, tetapi kalau dia ngasih kita tdk milih, ini bukan suap. Ini juga bukan kategori nipu kalau kita tdk milih dia, karena dia yg datang nawari kita. Yg memberi sdh dosa duluan, karena sudah memberi dgn tujuan suap, bukan hanya sekedar niat."

Ada pula yang menyahut seperti ini: "innamal aqmalu bin niat....... kalau mereka memberi setelah tgl 9-4-2014 dan sebelum tgl 1-1-2018.... itu adalah perbuatan baik yg sangat langka..... langka sekali.....dan....aahhh masak iyaseh ada orang seperti itu...."

dan juga seperti ini: " tapi kita tau sebab kita dikasih duit.kita tau seseorang selesai mencuri kemudian memberikan kepada kita secuil hasil curian itu katakanlah sebungkus rokok..ya sama aja.yang dibagi tidak bisa dikatakan ikut mencuri tapi menikmati iya kan."

Banyak ragam pendapat mengenai hal ini termasuk suap atau bukan.  Padahal seandainya kita tahu apa niat orang memberi materi sebelum pemilu tentu kita bisa pastikan hal tersebut suap apa bukan, kita hanya bisa merasakannya tanpa bisa membuktikannya.   Yang jelas kita bisa membuat keputusan tepat untuk diri kita masing-masing mau menerima pemberian orang/caleg/partai atau tidak.  Kalau kita menerimanya sementara kita tahu apa tujuan sang pemberi adalah money politic maka menurut saya kita sudah tergolong penerima suap, dan kalau kita tidak memilih sang pemberi maka kita pun termasuk penipu.

Kalau sebagian besar masyarakat kita suka mengharap pemberian seperti itu maka tidak heran pada akhirnya kita dipimpin orang-orang bermental suap, korup dan penipu, jadi jangan salahkan pemimpin seperti itu, salahkan juga para pemilihnya, saatnya kita harus memilih dengan akal sehat.

Para caleg, capres, cagub dan cabup/cawali yang saat kampanye mengandalkan iming-iming materi akan menghadapi dua pilihan pada akhirnya, kalau berhasil akan jadi koruptor dan kalau gagal akan stress berat bahkan gila.

3 komentar:

  1. kalo semuanya kaya itu,haruskah kta memilih...? pilihan bijak golput?

    ReplyDelete
  2. kalo ragu... maka tinggalkan

    ReplyDelete
  3. oke siiip.....banget pendapatnya....jika semua orang sependapat.....tentu....Indonesia akan menjadi negara yang bermartabak...eeehhh BERMARTABAT....MERDEKAAA

    ReplyDelete