Home » » BBM Tetap Aja Bikin Pusing

BBM Tetap Aja Bikin Pusing

Catatan Ringan. Makelar, broker, calo atau apalah namanya adalah orang-orang yang bertugas menjembatani kepentingan antara pihak penjual dan pembeli. Sepantasnyalah antara makelar, penjual dan pembeli sama-sama mendapatkan keuntungan yang wajar, jangan sampai salah satu pihak dirugikan.

Pada beberapa dekade yang lalu dimana bioskop adalah satu-satunya hiburan bagi masyarakat, sangat membekas bagi penulis dimana begitu susahnya membeli tiket bioskop di loket penjualan tiket karena calon penonton yang berjejal, berebut, tidak suka antri dan akhirnya banyak tiket sudah dikuasai oleh calo tiket, sehingga kalau mau praktis beli saja tiket pada calo dengan harga yang sudah di mark up. Praktik ini masih sering kita lihat dipemberitaan, misalnya pada pertandingan sepak bola atau konser musik penyanyi kelas dunia yang datang ke tanah air.

Praktik percaloan sekarang ini sudah merambah ke barbagai segi ekonomi bahkan ke ranah yang bukan jual beli. Sering kita dengar calo pembuatan SIM, calo pajak kendaraan di Samsat, makelar kasus, makelar anggaran, makelar hukum, makelar pendidikan dan mekelar-makelar lainnya.

Sejak didengungkannya rencana kenaikan harga BBM sampai batalnya (ditunda) kenaikan harga BBM pada 1 April 2012 bahkan sampai saat ini makelar BBM makin subur (jumlah makelar dan jumlah timbunan BBM-nya). Betapa kita pengguna premium dan solar bersubsidi begitu susahnya mendapatkan BBM tersebut dengan harga resmi padahal katanya stok BBM normal, tidak ada pengurangan, dan stasiun pengisian BBM (SPBU) begitu banyaknya tersebar di kota-kota. Lihatlah antrian di SPBU dikuasai makelar BBM dengan ciri yang mencolok, sepeda motor dengan tangki besar (yang baru, yang butut dan yang dimodifikasi menjadi berlipat volumenya). Begitu selesai mengisi, langsung dikuras, lalu antri lagi, bahkan kegiatan tersebut dilakukan di sekitar SPBU tersebut, sehingga tidak sedikit penjual BBM eceran yang berjualan malah si seputar SPBU, dengan harga yang jelas lebih tinggi dari harga SPBU. Pemandangan tersebut jadi mengingatkan kita pada susahnya membeli tiket bioskop di masa lalu, padahal loket penjualan ada, tiketnya ada, tetapi pembeli terpaksa (dirugikan) membeli tiket pada calo. Apakah ini berkat kerja sama petugas SPBU dan aparat keamanan (yang sama-sama membiarkan, atau sama-sama mendapat untung)?

Adakah yang salah dengan budaya kita yang susah antri, susah mengalah, susah untuk tidak egois sehingga kita terbiasa dengan jalan pintas tanpa merasa bersalah telah membuat orang lain dirugikan. Semoga kita dalam mencari nafkah selalu dalam suasana ibadah, agar lebih dekat dengan Allah. Bukankah kita hidup untuk beribadah pada Sang Pencipta (Q.S. Adz Dzariyat 56).

Sekarang BBM naik lagi, agar negara tidak bangkrut gara-gara besarnya subsidi yang ternyata lebih banyak dinikmati oleh orang kaya (pemakai BBM terbanyak), semoga BBM menjadi berkah bagi rakyat Indonesia, bukan sebagai alat bagi sebagian orang untuk mengeruk keuntungan sepihak (merugikan orang lain) atau alat politik menjelang pemilu.

0 komentar:

Post a Comment